Selamat Datang di Literasi Pembangunan Desa Kolaka Utara

Sapoiha Salurkan BLT Tahap III

 Oleh : Annisa Fauziyyah Syahrir


Pemerintah Desa Sapoiha kembali menunaikan kewajibannya terhadap warganya, telah disalirkan bantuan langsung tunai periode Juli – September 2025 kepada 10 kelompok penerima manfaat (KPM

Setiap KPM seperti biasanya selama ini masing-masing menerima Rp 300 ribu untuk perbulannya. Sehingga setiap KPM menerima Rp 900. Ribu selama tiga bulan berturut-turut. 

“Bantuan langsung Tunai yang diberikan sebanyak Rp. 300.000 perbulan sehingga total yang diterima 10 KPM dari  bulan juli - september tahun 2025 sebanyak Rp. 900.000, ungkap Kepala Desa Sapoiha, H. Wisbahuddin

Menurut Kades, kegiatan ini dilaksanakan di Kantor Desa Sapoiha Kecamatan Watunohu Kabupaten Kolaka Utara pada hari Rabu , 17 september 2025 yang dimulai pada pukul 09.00 dan selesai pada puku 10.00 wita  .Kegiatan ini dihadiri langsung oleh Camat Kecamatan Watunohu , Kepala Desa Sapoiha Beserta perangkat desa ,Ketua BPD Beserta anggotanya , Pendamping desa dan Pendamping Lokal Desa

Bantuan Langsung Tunai Dana Desa ini merupakan kegiatan pemberian bantuan langsung berupa dana tunai yang bersumber dari Dana Desa kepada Keluarga Penerima Manfaat (KPM) yang telah disepakati melalui Musyawarah Desa Penetapan KPM BLT sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan oleh pemerintah pusat.

Kades juga menjelaskan bahwa kreteria, penerima BLT di desa Sapoiha sebagian besar kategori Lansia yang sudah tidak bekerja .

Kegiatan penyaluran BLT berlangsung secara terbuka dan tertib , satu persatu nama penerima dipanggil langsung oleh Kaur keuangan desa sapoiha .

H.  Wisbahuddin menegaskan agar BLT yang diterima dipergunakan sebaik - baiknya untuk mencukupi kebutuhan dasar sehari - hari seperti membeli sembako dan kebutuhan lainnya , jangan sampai dipergunakan untuk kebutuhan yang tidak mendesak .

Pemerintah desa Sapoiha sangat berharap dengan pemberian BLT ini dapat mengurangi beban ekonomi keluarga penerima manfaat.

Patowonua, Suplyer Telur Kolaka Utara

 Oleh : Adryan


Kepala Desa Patowonua, Nashar,S.Sos, menceritakan bahwa  merupakan salah satu desa yang terletak di wilayah Kecamatan Lasusua, Kabupaten Kolaka Utara, dengan mayoritas penduduk bermata pencaharian sebagai petani dan buruh harian. Selama bertahun-tahun, warga Patowonua menghadapi tantangan yang cukup serius dalam hal ketahanan pangan, terutama terkait kebutuhan protein hewani. Harga telur ayam yang fluktuatif di pasaran serta ketersediaan yang tidak menentu membuat kebutuhan harian masyarakat sering kali tidak terpenuhi. Di sisi lain, masih banyak lahan pekarangan yang belum termanfaatkan secara optimal.

Pemerintah Desa Patowonua kemudian menyadari bahwa masalah ini tidak hanya berkaitan dengan konsumsi, tetapi juga peluang ekonomi. Potensi besar masyarakat desa yang memiliki semangat gotong royong serta ketersediaan lahan dan sumber pakan alami menjadi modal berharga untuk membangun program ketahanan pangan berbasis ternak unggas, khususnya budidaya ayam petelur.

Tahun 2025, Anggaran Rp. 226.847.200, dimana sewa lahan Rp. 20.000.000, pembuatan Kandang Rp. 74.000.000, bibit ayam, pakan dan kebutuhan lainya Rp. 132.847.000,” ungkapnya.

Pada awal tahun 2024, melalui forum Musyawarah Desa (Musdes), muncul ide untuk mengembangkan Program Ketahanan Pangan Ayam Petelur. Ide ini berawal dari pengalaman kelompok ibu rumah tangga yang sebelumnya menjalankan usaha kecil olahan makanan, tetapi terkendala pasokan telur yang mahal.

Menurutnya, dalam musyawarah tersebut, Kepala Desa Patowonua bersama Badan Permusyawaratan Desa (BPD), perangkat desa, serta tokoh masyarakat sepakat bahwa sebagian Dana Desa tahun berjalan dialokasikan untuk sektor ketahanan pangan, khususnya melalui pengadaan ayam petelur. Program ini diberi nama 'Ketahanan Pangan Berbasis Ternak Ayam Petelur Patowonua', dengan tujuan utama: meningkatkan ketersediaan bahan pangan sumber protein hewani, menumbuhkan ekonomi produktif masyarakat, dan mendorong kemandirian pangan desa secara berkelanjutan.


Pelaksanaan program dimulai pada pertengahan tahun 2025. Dana Desa dialokasikan untuk beberapa komponen utama, antara lain pembangunan kandang ayam petelur berukuran 20x40 meter dengan kapasitas 1.000 ekor, pengadaan bibit ayam petelur sebanyak 1.000 ekor usia 16 minggu, penyediaan pakan, vitamin, dan peralatan pendukung, serta pelatihan teknis oleh penyuluh peternakan.

Pada tahap awal, kelompok menghadapi beberapa kendala teknis seperti penyesuaian lingkungan kandang dan penyakit ringan pada ayam. Namun, berkat pendampingan intensif dan semangat belajar para anggota, perlahan-lahan semua tantangan dapat diatasi. Kegiatan harian di kandang dilakukan secara bergilir oleh anggota kelompok, dimulai dari pagi untuk memberi pakan dan membersihkan kandang, dilanjutkan dengan pengambilan telur dua kali sehari.

Memasuki bulan ketiga, produksi telur mulai stabil. Rata-rata setiap hari kelompok mampu menghasilkan 300–350 butir telur, atau sekitar 9.000 butir per bulan. Hasil ini jauh melampaui perkiraan awal, sehingga desa memiliki stok telur yang cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat sekitar.

Program ini memberikan dua manfaat sekaligus: pangan terpenuhi dan ekonomi tumbuh. Masyarakat Patowonua kini lebih mudah mendapatkan telur dengan harga terjangkau, sementara keuntungan penjualan digunakan untuk membeli pakan tambahan dan perawatan kandang. Dari keuntungan tersebut, kelompok mampu membentuk tabungan kelompok untuk pengembangan usaha ke depannya.

Selain berdampak ekonomi, program ayam petelur juga membawa perubahan sosial yang nyata. Hubungan antarwarga menjadi lebih akrab karena sering berinteraksi dalam kegiatan kelompok. Melalui semangat kebersamaan, warga desa kini lebih percaya diri untuk mengembangkan ide-ide baru di bidang ketahanan pangan.

Dari sisi lingkungan, limbah kotoran ayam yang semula dianggap masalah kini justru dimanfaatkan sebagai pupuk organik untuk kebun sayur desa, menciptakan siklus ekonomi sirkular sederhana.

Penerima manfaat utama Adalah Masyarakat Desa Patowonua Secara Umum Kolaka Utara Secara Khusus. Apalagi dapat membantu Program Makan Bergizi Gratis.

Keterlibat Dinas Kopersi Dan PMD Untuk Kolaborasi ini penting untuk mengatasi keterbatasan pendanaan dan memastikan pembangunan yang berkelanjutan.

Pengembangan program dan jenis usaha dalam peningkatan Aksesibilitas Usaha Memperluas Jenis Usaha yang dibudidayakan untuk mrngurangi resiko dan meningkatkan potensi pasar,Meningkatkan hasil Telur dengan mengoptimalkan tenaga kerja yang sudah ada.(*)

Lawekara : Pusat Hortikulutra yang Eksotis

 Oleh : Siti Rahman

Kebun hortikultura ini muncul dari kebutuhan warga Desa Lawekar khususnya warga di Dusun 4, akan Pangan Sehat, ekonomis, serta estetika dari tanaman Sayur, buah, obat-obatan, dan hiasan didukung potensi lahan yang ada di Dusun 4 serta nilai ekonominya yang tinggi, yang membuatnya menarik untuk dikembangkan sebagai komoditas unggulan dan sarana meningkatkan kesejahteraan Warga Desa Lawekara.

Pada tahun 2023 tepatnya pada Bulan Juni 2023 dimulailah proses Pembuatan Kebun Hortikultura diawali dengan pembuatan Rencana Anggaran Biaya (RAB), hal ini dilakukan untuk memudahkan proses pengerjaan yang sesuai dengan rencana tata letak tanaman dan biayanya. Setelah itu dilanjutkan dengan pembersihan lahan dibulan yang sama hingga Juli, pemilihan bibit sayuran yang tepat, penanaman, dan pemeliharaan dilakukan dibulan Juli hingga Sayuran berhasil dipanen di bulan Agustus. Adapun yang melaksanakan kebun Hortikultura ini Adalah Ibu-ibu Dasawisma Dusun 4 Desa Lawekara dengan Pengawasan dilakukan oleh Pemerintah Desa dan BPD Desa Lawekara

 

hasil utama kebun hortikultura meliputi produk Pangan untuk konsumsi (Buah, Sayur, Tanaman Obat) yang kaya vitamin mineral dan serat, serta produk estetika (Bunga, Tanaman Hias) untuk memenuhi kebutuhan Rohani dan lingkungan. Selain itu hasil yang diharapkan juga mencakup peningkatan ekonomi petani, penciptaan lapangan kerja, dan pengembangan wisata berbasis pertanian.

 

yang diharapkan dari kebun hortikultura Adalah peningkatan penyediaan pangan sehat. Peningkatan pendapatan dan kesejahteraan Petani khususnya untuk Ibu-ibu Dasawisma, pemberdayaan Masyarakat, serta pelestarian lingkungan melalui praktik berkelanjutan. Selain itu pengembangan Hortikultura juga diharapkan mampu menjadi penyumbang Pendapatan Asli Desa (PAD)

Penerima manfa’at utama dari pembuatan kebun hortikultura ini mencakup Masyarakat umum yang tinggal di desa Lawekara yang mengonsumsi hasil Buah, dan Sayur bergizi. Kebun ini juga sangat bermanfa’at sebagai sumber bibit tanaman yang bisa dibagikan kepada Keluarga Miskin Ekstrem dan Stunting di Tingkat keluarga.


Kebun hortikultura berkontribusi pada Pendapatan Asli Desa (PADesa) melalui penciptaan pendapatan langsung bagi petani, penyediaan lapangan kerja, peningkatan ekonomi local melalui penjualan hasil, dan potensi untuk memasarkan hasil kebun keluar daerah sehingga bisa menambah devisa desa. Selain itu, kebun hortikultura juga mendukung ketahanan pangan local dan dapat menggerakkan sektor-sektor ekonomi pendukung lainnya diwilayah desa.

Keterlibatan dan dukungan dalam pembuatan kebun hortikultura berasal dari berbagai pihak, seperti Pemerintah (Pusat, Provinsi, dan Daerah), Dinas Ketahanan Pangan, TP PKK (Kabupaten, Kecamatan, dan Desa), Dasawisma (Kabupaten, Kecamatan, dan Desa), Pihak Swasta (Sponsor), dan Masyarakat (dukungan moral dan partisipasi). Kolaborasi ini penting untuk mengatasi keterbatasan pendanaan dan memastikan kebun hortikultura yang berkelanjutan guna mendukung program ketahanan pangan Desa.

 

Pengembangan program dan jenis usaha dalam pembuatan kebun hortikultura meliputi : Penyedian fasilitas dan Infrastruktur, pengelolaan dan penjualan hasil panen serta mengikuti lomba ketahanan pangan Tingkat kecamatan

Tinukari : Di Ujung Jalan Pusat Produk Itu Ada

 Oleh : Hasyim


Desa Tinukari merupakan salah satu desa yang ada di Kecamatan Wawo Kabupaten Kolaka Utara Propinsi Sulawesi Tenggara, dimana Desa Tinukari ini adalah Desa Yang di api oleh pegunungan dan berada di bawa kaki gunung mekongga yaitu atap Sulawesi Tenggara. Mayoritas masyarakat pada umumnya adlah petani dan pekebun, maka dari itu di dengan Kegiatan Peningakatan Jalan Produksi Perkebuanan ini mempermudah akses petani pada umunya agar bisa menghasilkan produksi yang lebih maksimal dari tahun sebelumnya.

Menurut Kepala Kepala Desa Tinukari, Hasrawati,ST, Pemerintah Desa Tinukari mengatakan, melalui Musyawarah Desa Tahun anggaran 2023 salah satu point dari beberapa usulan rencana kegiatan pembangunan desa yaitu Pembangunan dan Peningkatan Jalan Produksi Pertanian diputuskan melalui proses musyawarah desa.

Pada tahun anggaran 2023 tepatnya pada bulan Maret 2023 dimulailah proses pembangunannya yang diawali dengan pembuatan Gambar dan Rencana anggaran Biaya (RAB), Hal ini dilakukan untuk meemudahkan dalam proses pembangunan yang sesuai dengan rencana tata letak dan biayanya.

Kegiatan Pembangunan Peningkatan Jalan Produksi Pertanian. Adapun yang melaksanakan kegiatan pembangunan Peningkatan Jalan Produksi Pertanian tersebut melalui program Padat Karya Tunai Desa (PKTD) dengan pengawasan yang dilakukan oleh Pemerintah Desa, BPD, Tim Pelaksana Kegiatan (TPK) Desa Tinukari,” ungkapnya.

Lebih jauh sang kades, mengungkapkan bahwa output dari pelaksanaan pembangunan Peningkatan Jalan Produksi Pertanian adalah sebuah fasilitas Jalan Produksi yang siap digunakan untuk Mempermudah Akses masarakat Menuju Lokasi Perkebunan dan Pertanian, Sehinga petani bisa Memperoleh hasil yang memuaskan dari tahun sebelumhya.

Dengan adanya peningkatan Aksesibilitas petani kelahan pertanian dan pekebunan,dapat meningkatakan Produktivitas dan pendapatan petani karena distribusi hasil yang lebih cepat, Memangkas Waktu biaya dan transportasi hasil panen kepasar atau pengepul.

Penerima manfaat utama dari peningkatan Aksesibilitas petani kelahan pertanian dan pekebunan ini adalah masyarakat umum  yang tinggal di Desa Tinukari yang mendapatkan fasilitas untuk mempermudah Akses Petani menuju lahan perkebunan , kemudian selain akses untuk Petani Pada umumnya.

Juga merupakan akses jalur Evakuasi Para Pencita alam yang melakukan Pendakian di Puncak Gunung tertinggi di Sulawesi Tenggara(MEKONGGA) yang  apabilah selama pendakian ada yang mengalami kendala atau treble,” ungkapnya.


Pembangunan peningkatan Aksesibilitas petani kelahan pertanian dan pekebunan, mendorong aktivitas ekonomi, mempererat keberkasamaan warga, serta mempromosikan citra desa melalui potensi Perkebunan dan pariwisata.

Keterlibatan dan dukungan dalam pembangunan peningkatan Aksesibilitas petani kelahan pertanian dan pekebunan berasal dari berbagai pihak, seperti Pemerintah (Pusat, Propinsi dan Daerah),  dan Masyarakat (dukungan moral dan partisipasi). Kolaborasi ini penting untuk mengatasi keterbatasan pendanaan dan memastikan pembangunan yang berkelanjutan.

Pengembangan program dan jenis usaha dalam peningkatan Aksesibilitas petani kelahan pertanian dan pekebunan meliputi: Memperluas Jenis Produk atau Komoditas yang dibudidayakan untuk mrngurangi resiko dan meningkatkan potensi pasar,Meningkatkan hasil pertanian dengan mengoptimalkan lahan,air,tan tenaga kerja yang sudah ada,” kuncinya. (*)

Halaman